Rabu, 08 September 2010

Sekilas tentang Gie

G

Lahir pada 17 Desember 1942, Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh demonstran yang pada zamannya (antara tahun 1957 - 1969) dikenal memiliki pemikiran yang kritis,dan demokratis. Cerdas dan lugas itulah Gie. Pada masanya berkuliah Gie menghabiskan waktunya dengan menjadi penulis artikel dan seorang mahasiswa yang slalu mengikuti demonstrasi.Gie juga adalah tokoh yang selalu membahas tentang kehidupan,cinta dan ketidakadilan,beliau juga sangat suka menulis sebuah puisi. Gie selalu merasa tidak puas pada pemerintah di zaman itu,oleh karna itu dia terkenal karna artikel-artikel dan setiap gagasan yang dia buat selalu saja to the point dan terus terang. Dia menentang berbagai ketidakadilan yang diciptakan oleh pemerintahan di zaman Soekarno. 
Dia juga adalah seorang pecinta alam,dan memiliki hoby berkemah ataupun menaiki gunung. Tak jarang ketika beliau sedang tertekan ataupun tak mendapatkan inspirasi, naik gunung untuk menenangkan diri adalah jalan yang slalu dia tempuh. Sampai akhirnya dia pun meninggal di puncak Gunung Semeru karna diduga terkena gas beracun. Sampai saat ini sosok Soe Hok Gie tetap terkenal,sampai-sampai kisah hidup Soe diangkat menjadi film layar lebar pada tahun 2005 oleh Mira Lesmana dan Riri Riza.

karya Puisi Gie yang terkenal.

Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)


“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”


(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”


(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar